Rakyat
Rakyat ialah kita
jutaaan tangan yang mengayun dalam kerja
di bumi di tanah tercinta
jutaan tangan mengayun bersama
membuka hutan-hutan lalang jadi ladang-ladang berbunga
mengepulkan asap dari cerobong pabrik-pabrik di kota
menaikkan layar menebar jala
meraba kelam di tambang logam dan batubara
Rakyat ialah tangan yang bekerja
Rakyat ialah kita
otak yang menapak sepanjang jemaring angka-angka
yang selalu berkata dua adalah dua
yang bergerak di simpang siur garis niaga
Rakyat ialah otak yang menulis angka-angka
Rakyat ialah kita
beragam suara di langit tanah tercinta
suara bangsi di rumah berjenjang bertangga
suara kecapi di pegunungan jelita
suara bonang mengambang di pendapa
suara kecak di muka pura
suara tifa di hutan kebun pala
Rakyat ialah suara beraneka
Rakyat ialah kita
puisi kaya makna di wajah semesta
di darat
hari yang beringat
gunung batu berwarna coklat
di laut
angin yang menyapu kabut
awan menyimpan topan
Rakyat ialah puisi di wajah semesta
Rakyat ialah kita
darah di tubuh bangsa
debar sepanjang masa
Senin, 22 Juli 2013
HARTOYO ANDANGJAYA
Jumat, 21 September 2012
" Nang Kalau Sekolah yang Rajin... "
Malam
yang indah saat aku menulis sebuah syair di buku kecilku.
Aku
mendapat kabar yang membuat malam indah itu berubah menjadi sebuah
kegugupan.
“ Nok
ini Nisa “
“ Iya
Pakdhe ini Nisa “
“ Pakdhe
Sarno ada nok “
“ Iya
Pakdhe ada , sebentar ya ?”
Akhirnya
aku mengakhiri sebuah percakapan telefon dengan pakdhe siswo. Setelah
itu aku mendengar sebuah kepanikan dan aku melihat wajah pakdhe sarno
menjadi tegang. Akupun tak mengerti apa yang dibicarakan kedua orang
tua itu.
“ Nis
mbah muin nis ?”
“ Gimana
to Pakdhe ada apa sebenarnya ?”
“ Mbah
Muin meninggal dunia !”
Akupun sontak terkejut mendengar apa yang di ucapkan Pakdhe Sarno. Aku memegang handphone dengan bergetar gugup tak karuan. Aku paksakan diriku untuk mengabari semua saudaraku bahwa mbah muin meninggal.
“ Mbah
Muin meninggal “ pesan (sms) yang aku kirim untuk saudaraku.
“ Gimana
Nis , kamu dapat kabar dari siapa ?” suara lemas dari hanphone yang
aku dapatkan panggilan dari ibuk.
“
Iya buk, dari pakdhe mohid ?”
“
Kapan Nok , Ya allah “
“
Barusan kok buk “
“
Yauwes cepat siap-siap ! nanti ibuk jemput ?”
“
Injeh buk aku pun mengakhiri telepon dari ibuk aku membangunkan
adik-adikku untuk segera bersiap – siap .
“
Ayo semua pada siap “ Suara lemas kudengarkan kedua kalinya.
“
siap buk “ suara adik-adikku yang masih bertebrangan dengan
mimpinya yang terpaksa aku bangunkan .
Kulihat
wajah pucat pakdhe sarno , yang lemas dan berjalan pelan menuju mobil
denga takdir yang sebenarnya tidak diinginkan olehnya.
Kami
berjalan menuju kediaman mbah muin. Dengan muka lemas , pucat , gugup
, dan tidak karuan setelah kami berjalan menuju pertengahan jalan
suara hanphoneku memecahkan lamunan dan rasa kantuk adek-adek aku.
Setelah kulihat ternyata sebuah telefon dari bulek aku.
“
Nis, kamu dimana ?”
“
Iki to Bulek lagi jalan ke Mbahe ?”
“
Ealah ,kamu dikabari siapa to nok-nok kalau simbah wis meninggal ?”
“
Pakdhe Sarno , lha gimana Bulek ?”
“
Simbah muin iseh ono “
“ Tenane Bulek ?”
“ Tenane Bulek ?”
“
Iyo tenan “
Aku
mengakhiri kabar baik itu , dan aku menyampaikan kabar itu dengan
rasa sumringah.
“
Pakdhe, Buk,e “
“
Opo to Nis “
“
Simbah Muin masih hidup “
“
Tenane , kowe intuk kabar seko ngendi “
“
Iyo Buk , seko Bulek “
“
Tenane “ suara lemas tadi yang aku dengar berubah menjadi
sumringah.
Sesampe
disana aku , adek , ibuk dan pakdhe sarno turun dan bergegas menemui
simbah untuk melihat keadaanya.
“
Piye to kok bisa salah kuminikasi “ sahut pakdhe sarno yang jengkel
dengan pakdhe mohid.
“
Orak ngono mas ?” suara besar bulat menanggapi pertanyaan pakdhe
sarno.
Percakapan
itu di akhiri dengan melihat keadaan mbah muin yang nafasnya tidak
karuan sangat keras mulut tua dan keriputnyapun membuat kelengkapan
yang di derita mbah muin.
“
Mak , Mak,e , Mak “ suara panik Pakdhe sarno dengan muka dan mata
yang sangat panik melihat keadaan emaknya.
“
Hoh , hoh , hoh , ahoh , hoh “ suara itu yang di ucapkan dari
mulutnya yang terbuka dan mata tertutup itu semua panik dan hanya
suara nafas sesak itu di ucapkan simbah.
*** *** ***
Selama
2 jam 15 menit Siembah Muin masih mengeluarkan napas keras itu . dan
orang – orang yang ada di sekitar rumah panik dan di lengkapi air
mata dan peluh – peluh keringat itu menambah sebuat kepanikan.
Tepat pukul 00.45 WIB suara tangisan keras terdengar dari mulut buk,e
inalilahi wainailaihi rojiun hanya sepatah ayat yang bisa ku ucap
untuk mbah muin.
*** *** ***
Setelah
pemakaman selesai . aku dan adekku Bejo bercerita-cerita dengan muka
lemas karena mengikuti proses pemakaman Mbah Muin.
“
Nang , kamu ngerti endak ?”
“
Apa to mbak “
“
Mbah Muin wajahnya bersinar saat dimakamkan dan di jilbabi “
“
Iyo mbak nis aku ngerti wajahe siembah ayu , eh mbak nis ?”
“
Gimana nang ?”
“
Aku tadi malam sebelum berangkat kerumah siembah aku mimpi lho mbak
nis ?”
“
Mimpi apa to nang ?”
“
Begini mbak nis aku semalem mimpi ketemu siembah ?”
“
Dimana nang ?”
“ Di
deket kandang wedusnya siembah owk mbak ?’
“ Siembah
ngelus-ngelus kepalaku mbak nis terus siembah nanyain begini mbak “
“ Nang
kalau sekolah yang rajin , walaupun sinang kemaren tidak naek kelas
sinang harus tambah rajin belajarnya “
“iya
mbah “
“ Terus
simbah pergi mbak nis kearah cahaya yang terang sekali di belakang
kandang wedusnya siembah.
“ iya
nang ?” ( dengan muka tidak ……..
“iya
mbak setelah aku bangun dari mimpi ketemu sama siembah aku dibangunin
sama mbak nisa to ?”
“ Nis
, Jo ayo pulang !”
Cerita
adekku Bejo diputus oleh ibuk yang memamnggil kita untuk segera
siap-siap pulang
karena
besok kita sekolah .
*** *** ***
Minggu, 09 September 2012
Sang Raja Dan Mahkota Jerami
Lenggak lenggok padi
burung-burungpun tak mau tertinggal
menganyunkan nada seirama gemericik air
ku lihat mahkota jerami menampakan diri
hanya mahkota jeramilah yang menemani dia
tangan keriput memegang benda pembawa rejeki
mataharipun terlalu jahat datang seawal itu
butiran-butiran air muliapun mengalir menemani wajah keriput itu
semangatnya yang membuatku iri dengannya
kau bagai malaikat tanpa pamrih
sangar mulianya kau
bertanggung jawab atas semua titipan-Nya
Hak Kami
akupun ingin protes tentang semua ini
kita ?
apa mereka mau menganggap semua rengekan kami
apa mereka mau mendengarkan kekurangan kami
ingin sekali ku cambuk mereka dengan cambuk rengekan kami
ingin sekali ku corong kuping-kuping mereka dengan keluhan kami
tak pantas kalian menunggang kereta berAC
yang sebenarnya masi ada hak kecil untuk kami
tak ku lihat indah kalian memakai kain sutera
dan kain goni sangat indah jika kami memakainya
sadarkah ?
semua yang kalian miliki sangat indah dan mulia
jika kalian ingat kami
Senin, 03 September 2012
Problema Yang Tak Ku Tahu
akupun tak mengerti
apa salahku
apa salahku
ku selalu ingin bertanya
apa yang buat kau
membuatku punya masalah dengan kau
apa yang buat kau jadi menunjuk aku
sebagai pembuat problem dalam hubungan ini
apakah karena benci
ataupun karena bosan
aku bertanya kupu-kupu
namun dia tak menjawab
aku bertanya kepada sang fajar
dia tak mengerti
aku bertanya purnama
dia diam bagai tersangkadalam sebuah problema
apa salahku
apa salahku
apa salahku
ku selalu bertanya
tak seorangpun tau
tentang apa yang tak ku mengerti
Minggu, 02 September 2012
PURNAMA YANG KU NANTI
seakan bertemu purnama
kupejamkan semua mata
terlihat dari jauh
teriakan yang ku tunggu
selir deburan ombak
yang tak mau berhenti menyapamu
menyapamu bersamaku
helaian daun kelapa
yang tak mau tertinggal untuk menyambutmu
kau begitu berubah
bagai ulat menjadi kupu-kupu jantan
indah dan berubah
kau ampiri semua rasaku
dengan sentuhan tanganmu dulu
kulitmu menyentuh
bagai sutera emas yang terlalu berharga buatku
kau bagai fatamorgana
yang tak pernah ku jumpa
kau menatap dua bola mata
yang selalu ku tunggu-tunggu
tatapan itu..
bersorak gembira dua bola mata
yang telahterobatidengan tatapan itu
bibir tipis yang tersenyum bagai bunga melati
bunga melati segar yang tumbuh mekar di senja hari
akupun seakan ingin bentrokdengan bola mata
air mata bahagia
yang telah ku tunggu
yang dari dulu
aku mau
aku ingin
kehadiranmu..
NASKAH MONOLOG DRAMA
Suasana sepi,sendiri,di suatu tempat yang tidak diinginkan.Disuatu keadaan yang tak mau dirasakan.Bocah cilik yang hidup hanya bersama ibunya dan diterlantarkan oleh ayahnya.
Iqbal : (menatap langit-langit genting dikamar) "hahaha,ayah,ayah,ayah gila kan ?"
Iqbal :"ayah gila,ayah gila,ayah gila, ayah gila ,ayah gila" (dengan nada seoalah bernyanyi)
Iqbal :"Satu-satu aku sayang ibu dua-dua juga sayang ibu tiga-tiga juga sayang ibu satu dua tiga iqbal benci
ayah!" (dengan nada bernyanyi lagu anak-anak)
Iqbal :(memegang foto keluarga dan menusuk foto ayahnya dengan muka jengkel) "hahahahaha"
Iqbal :"mau senenengnya aja yah mau enaknya aja buat aku tapi kkalau udah nyetak endak mau ngurus aku?
(dengan nada sedih dan jengkel)
Iqbal :"sana-sana jauh-jauh ! KELUAR ! (sambil membuang foto ayahnya)
Iqbal :(menggerutu,penuh dendam,seaakan ingin memeberontak)
Iqbal :"aku kangen ayah,kangen utuk bertemu,kangen ingin dipeluk seperti anakanak lain,ayah gila gila gila
,ayah bodoh"
Iqbal : "aku punya ayah bodoh,pandai berlagak kancil,dia senang nelantatin aku sambil berlagak bodoh ayah
hahahah kemari hahaha sini aku bunuh ayah hahaha kemari hahaha ayo lupakan kami"
(dengan bernyanyi nada lagu anjingku helly)
Langganan:
Postingan (Atom)





